Friday, July 24, 2009

Agar Mental Anak Sehat


Tema mengenai reward and punishment untuk anak sudah kerap dibicarakan, melalui berbagai media massa maupun lewat seminar dan diskusi. Namun, dalam kenyataan masih banyak orangtua yang menerapkan kekerasan fisik kepada anak-anaknya, dengan berbagai alasan.

Bagi psikolog pendidikan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Lucia RM Royanto, mendidik anak itu pada dasarnya adalah membuat mental anak sehat. Jadi, perasaan anak harus dijaga sebaik-baiknya. Anak rewel, nakal, ngambek, tidak menurut adalah hal yang biasa. Orangtua sebaiknya tidak memberikan hukuman dengan kekerasan fisik (corporal punishment) sama sekali.

Menurut Lucia, hukuman fisik bisa berdampak serius. Salah satunya adalah membuat anak imun. "Awalnya, diceples sudah mempan. Lama-lama dipukuli pun tidak mempan lagi. Anak makin beradaptasi dengan rasa sakit, dan ini bisa menimbulkan agresivitas," katanya.

Dampak lain, kekerasan pada anak mengakibatkan efek modeling atau meniru. Anak yang kerap dipukuli orangtua biasanya akan memukuli teman-temannya. Jika ia tidak belajar dan bersikap terbuka saat dewasa, perlakuan ini pun bisa ditularkan kepada anaknya. Ia akan memukuli anaknya seperti dia dipukuli orangtuanya.

Selain itu, kekerasan juga traumatis dan akan terbawa sampai anak menjadi dewasa. Memang, tidak semua anak demikian, tergantung bagaimana pula lingkungan membentuknya. Bagi orangtua yang mau belajar dan bersikap terbuka, kekerasan yang pernah diterimanya sewaktu kecil tidak akan ditularkan kepada anaknya.

Secara pribadi, Lucia tidak mengharamkan pukulan sama sekali. "Hanya ada satu alasan mengapa anak harus kita pukul, yaitu ketika pengaruh perilaku anak itu membahayakan dia dan orang lain. Misalnya menyeberang jalan seenak perut. Boleh dipukul di paha agak keras, supaya tahu kalau itu tidak boleh," paparnya.

Namun, untuk perilaku seperti tidak akur dengan adik, makan tidak baik dan berceceran, hal itu justru bisa menjadi ajang bagi orangtua untuk berdiskusi dengan anak. "Resolusi konflik itu dengan diskusi. Tunjukan jika orangtua itu marah bukan pada orangnya tetapi pada perilakunya," tutur Lucia.

Masa anak-anak adalah masa bermain, jadi jangan racuni mental anak dengan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun psikis. "Sewaktu kecil tidak boleh dikerasi, apalagi kalau sudah besar dan bisa menimbang-nimbang sendiri," katanya.

Ada beberapa tips buat orangtua ketika marah kepada anak:

- Minta orang lain (suami kalau istri yang marah/istri kalau suami yang marah) untuk menasihati anak.

- Diam dan menghitung angka paling tidak satu sampai sepuluh.

- Minum air putih banyak-banyak.

Sumber: Kompas

Tragis, Bocah 7 Tahun Ketagihan Tontonan Porno

detikcom - Jakarta, Jika Anda menonton tayangan "miring", waspadai
anak-anak Anda. Jangan sampai dia bernasib apes seperti seorang bocah
Taiwan berumur 7 tahun yang ketagihan tontonan porno karena ulah
sembrono pengasuhnya. Bocah malang ini saat ini tengah mendapat bantuan
ahli
untuk menanggulangi adiksinya pada tontonan porno tersebut.


Bagaimana bisa seorang bocah menderita "penyakit" itu? Ceritanya, dia
mulai menonton tayangan haram itu saat dia tengah belajar berjalan
tertatih-tatih. Itu terjadi ketika kakek yang menjaganya, keranjingan
menonton VCD dalam kategori X itu.


Sedang ibu si bocah yang hanya diidentifikasikan sebagai Nyonya Liu,
menyatakan bahwa bapaknya berpikir bahwa cucunya itu tidak mengerti apa
yang sedang ditontonnya, demikian lapor United Daily News. Namun,
perkiraan itu keliru besar.


Ketika sang anak yang baru belajar berjalan itu belajar bagaimana
menyetel televisi, dia lebih suka mencari tontonan yang mengandung unsur
pornografi ketimbang film-film kartun yang lazimnya disukai anak-anak
seusianya.


Tragisnya, ketika umur si bocah mencapai 3 tahun, ibunya memergoki bocah
itu sedang memanjakan penisnya ketika sebuah film porno ditayangkan di
televisi. Buru-buru Ny.Liu pun pindah dari rumah ayahnya. Selama ini
dia memang tinggal di situ karena suaminya yang berprofesi sebagai tentara
jarang pulang ke rumah.


Ny.Liu lantas memonitor perilaku anaknya dan memperhatikan bahwa anaknya
suka dipeluk di antara payudara wanita dan akan meraba payudara para
wanita dengan tidak malu-malu.


Ketika dia masuk TK pun, bocah itu suka mengangkat rok guru-guru mereka
dan menggambar wanita telanjang ketimbang tokoh-tokoh kartun. Dia juga
mengintip rumah tetangga yang dihuni seorang wanita yang punya kebiasaan
tidur telanjang tanpa menutup jendela. Bocah itu juga mencuri pakaian
dalam tetangga itu dan hal itu terus berlanjut meski ibunya sering
mengomeli
dan memukulnya.


Ny.Liu akhirnya menyadari bahwa anaknya membutuhkan bantuan ahli setelah
anaknya itu mulai merabanya ketika dia sedang terlelap. Dokter-dokter
di RS psikiatrik di Kaohsiung mengatakan pada si ibu bahwa perilaku anaknya
itu adalah hasil dari eksposure yang cukup panjang dari film-film
pornografi.


Para dokter mengatakan, para orang dewasa keliru bila mereka berpikir
anak-anak yang masih muda tidak terpengaruh oleh materi semacam itu.


Jadi, waspadai tontonan anak-anak Anda!





Tugas berat para orang tua : si kecil belia dan info porno

~ Selain para gadis di akhir usia remaja atau pada usia dewasa yang perlu melindungi diri agar foto telanjangnya tidak beredar di internet, anak- anak yang lebih muda juga perlu dilindungi dari informasi berbau pornografi. Dan, tugas orangtualah untuk melindungi anak-anak ini ~

Jika tulisan berjudul ” Telanjang di Dunia Maya, mau ? ” terutama fokusnya pada para gadis di usia remaja atau usia dewasa,tulisan ini akan mencakup hal yang lebih luas dari soal foto telanjang di internet dan terutama fokusnya pada anak-anak yang masih kecil sampai pra remaja.

Ancaman pornografi terhadap anak-anak berusia belia ini sangat nyata dan kadang-kadang tidak disadari orang tua.

Pada suatu sesi presentasi di depan orang tua pada acara di sebuah kantor, Ibu Elly Risman, psikolog dari Yayasan Kita dan Buah hati pernah membuat para orang tua yang hadir dalam acara tersebut tercengang dan bertanya-tanya dalam hati apakah tanpa sadar anak-anak di rumah (para orang tua tersebut) juga telah terkontaminasi oleh informasi tentang pornografi ini, dan juga apakah secara tidak sengaja para orang tua telah memfasilitasi anak-anak untuk dengan lebih mudah memperoleh akses pada hal-hal yang berhubungan dengan pornografi tersebut.

Apa misalnya, sumber-sumber informasi atau peralatan canggih yang umum dapat diakses/ dimiliki oleh anak-anak yang pada akhirnya berujung pada akses anak-anak terhadap informasi yang berhubungan dengan pornografi ?

Ini :
- Ponsel berkamera
- Majalah
- Novel
- CD
- Situs porno di internet
- Film kartun, atau sinetron atau acara lain di televisi
- Computer game

Ibu Elly Risman menunjukkan pada sesi tersebut potongan-potongan gambar dari film-film di TV baik sinetron dan film kartun. Mengejutkan, karena film-film tersebut bahkan ada yang diputar pada prime time dimana anak-anak sangat mungkin masih menonton TV.

Ada adegan gadis remaja sekitar 15-16 tahun menawarkan tubuhnya pada lelaki dewasa, ada anak2 berseragam dengan adegan syurrrr… Ada dialog-dialog yang… sungguh mencengangkan dan selama ini mungkin luput dari perhatian orang tua.

Computer game ternyata juga setali tiga uang. Tampaknya jenis permainannya aman. Tetapi ternyata terselip di dalamnya gambar-gambar dan adegan-adegan yang jelas seharusnya tidak dikonsumsi anak kecil. Contohnya, gambar perempuan telanjang yang kemudian tertayang dalam layar sebagai hadiah jika anak-anak memenangkan game tersebut.

Situs porno sering tidak sengaja diketemukan oleh anak-anak yang sedang “search” internet untuk mencari informasi untuk bahan tugas di sekolah, karena seringkali nama situs-situs porno tersebut mungkin nama binatang atau tanaman dan ketika anak-anak bermaksud mencari informasi untuk membuat tugas IPA, muncul pulalah dalam daftar situs-situs porno tersebut.

Ponsel berkamera?
Sebagai informasi, ponsel berkamera adalah alat yang paling populer yang dapat membawa anak-anak pada informasi tentang pornografi. Atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan itu.

Salah satunya adalah modus seperti yang sudah diuraikan dalam ulasan berjudul “Telanjang di Dunia Maya, mau ?” yaitu bahkan murid-murid SD iseng memotret dirinya sendiri. Lalu tanpa berpikir panjang membaginya pada teman sebangku dengan mengirimkan gambar tersebut ke ponsel teman sebangkunya tersebut… dan wussss… dalam waktu sekejap gambar tersebut telah beredar dan tercopy di hampir semua ponsel milik murid-murid di SD tersebut.

Lalu, ada juga yang sebetulnya adalah “korban”.

Misalnya, ada contoh dimana ada anak perempuan kelas 6 SD yang pernah ‘curhat’ bahwa dia merasa tidak nyaman sebab si X, anak laki-laki teman sekelasnya yang baru dihadiahi ponsel berkamera oleh orang tuanya sering tiba-tiba muncul di ruangan dimana anak-anak perempuan kelas 6 sedang berganti pakaian saat hendak berolah raga atau setelah olah raga.Dan ‘klik’ ‘klik’ ‘klik’…Tanpa ijin dan tanpa memperdulikan protes anak-anak perempuan tersebut, X memotret anak-anak perempuan teman-teman sekelasnya yang sedang berganti baju tersebut.

Siapa yang bisa mengatur apa yang tampak apa yang tidak dari foto yang “dicuri” saat anak-anak tersebut sedang berganti pakaian? Dan siapa yang bisa membatasi peredaran gambar-gambar tersebut kelak ?

Selain membuat foto diri atau teman-temannya, ponsel juga dapat dengan mudah digunakan untuk bertukar gambar atau film porno antar kawan.

Mengejutkan? Ya !

Dan seringkali tak terpikir bahwa hal-hal “sederhana” dan sehari-hari ada di sekitar ternyata dapat berujung pada hal-hal yang berkaitan dengan pornografi dan menyentuh anak-anak yang masih kecil itu.

Sebagai gambaran umum, berdasarkan survey yang pernah dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati tahun 2005, lebih dari 80% anak berusia 9-12 tahun di Jakarta, Depok, Bogor, Tangerang, Bekasi telah mengakses materi pornografi. 25% melalui ponsel, 20% dari situs porno di internet, 12% dari majalah, 12% dari Film/VCD/DVD. Remaja dan dewasa muda usia 19-24 tahun lebih parah lagi, 97% (artinya hampir semua), remaja pernah mengakses situs porno.

Dari survey dan penemuan di lapangan, diketahui juga bahwa lepas dari apakah informasi yang saling dipertukarkan itu valid ataupun tidak, kebanyakan anak-anak mulai memperoleh informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan pornografi dari teman-temannya saat mereka duduk di kelas 4 SD.

Mereka mendengar informasi tersebut dengan wawasan dan cara pikir mereka yang masih terbatas dan pada suatu sesi di sebuah SD Ibu Elly memberikan kesempatan pada anak-anak untuk menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan seks.

Dan kembali, pertanyaan-pertanyaan yang muncul merupakan kejutan!

Disampaikan pada sesi presentasi di depan orang tua itu pertanyaan-pertanyaan yang pernah diajukan anak-anak SD, beberapa diantaranya berupa tulisan tangan asli anak-anak itu yang ditampilkan di layar.

Ini contoh pertanyaan-pertanyaan tersebut :

“Jika manusia berhubungan seks dengan binatang,nanti waktu lahir bentuk anaknya apa? Monster ?”

”Kalau saya sudah menikah, apakah saya boleh menggauli istri saya dari depan, belakang, dan samping?”

”Apa sih rasanya menghisap itu?”

Bayangkan, pertanyaan-pertanyaan semacam itu ditanyakan oleh anak-anak kelas 4 atau 5 SD!

Lucu?

Rasanya akan sangat sedikit yang berpendapat bahwa pertanyaan itu lucu– sebab kita semua tentu mengerti bahwa anak-anak tersebut dapat mengajukan pertanyaan semacam itu hanya jika sebelumnya ada informasi lain yang dia miliki sehubungan dengan hal tersebut

Dan tugas para orang tualah tentunya untuk sekuat tenaga berusaha menghindarkan anak-anak dari informasi- informasi yang sungguh tidak pada tempatnya diakses saat usia mereka masih demikian belia.

Adakah teman-teman yang ingin berbagi cerita atau pendapat tentang hal ini ?

Sumber : rumah kayu


Anak-Anak - Pasar Empuk Pembuat Produk Pornografi

JAKARTA, KOMPAS.com — Anak-anak di bawah umur 10 tahun belum dapat menggunakan logika berpikir secara maksimal. Apa yang mereka lihat akan langsung dipraktikan tanpa menganalisis benar atau salah. Setelah mereka melakukan tindakan itu dan merasa mendapatkan kenikmatan, mereka akan mengulangi tindakan tersebut lagi dan lagi. Dengan demikian, tak mengherankan jika anak-anak adalah target utama para pembuat dan pemasar tayangan pornografi.

Elly Risman, Ketua Yayasan Kita dan Buah Hati, menerangkan, sebelum membuat tayangan pornografi, para ahli berkumpul untuk merancang "strategi". "Ada ahli dari ahli syaraf, psikolog, dan yang pasti ahli-ahli dari pembuat teknologi yang membuat tayangan tersebut menarik. Kemudian, pasar yang dibidik adalah anak laki-laki yang belum baliq," ujarnya setelah pembahasan Uji Materi UU Anti Pornografi, di Kantor KPAI Jakarta, Selasa (5/5).

Ia menerangkan, pada anak laki-laki yang belum mengalami masa puber sekitar umur 9 tahun, mereka mempunyai rasa penasaran yang tinggi terhadap tayangan pornografi. "Anak-anak dilarang menonton tayangan itu oleh orangtuanya dengan alasan masih kecil, dan itu membuat rasa penasaran mereka bertambah," kata dia.

Saat orangtua lengah, ia melanjutkan, anak akan mencuri-curi untuk menonton tayangan pornografi itu. Setelah menonton tayangan tersebut, apa yang dilihat akan tersimpan terus di dalam sistem limbik. "Tak jarang saat menonton, anak mengalami orgasme. Pada saat itu mereka memang merasa berdosa. Namun, karena merasa ada sesuatu yang menyenangkan, mereka akan mengulanginya lagi," ungkapnya.

"Dan setelah mengalami 33-36 kali pengalaman orgasme, seumur hidup anak akan kecanduan pada tayangan pornografi itu," imbuhnya.

Menurutnya, jika pada umur 9 tahun saja anak sudah kecanduan dengan tayangan pornografi, pada usia 14 tahun anak itu berpotensi melakukan hal-hal yang lebih berbahaya lagi karena setiap hari kadar adiksi dan tingkah laku anak terus berkembang.

"Untuk mencegah anak-anak kecanduan pada tayangan pornografi, orangtua juga harus mengawasi kegiatan anak. Kalau mau memberikan mainan untuk anak, sebaiknya dilihat dulu, kalau tidak mengerti tanya pada pihak lain," kata dia.

"Hilangkan budaya tidak peduli antara anak dan orangtua. Walaupun sibuk, tetap berikan perhatian kepada anak. Selain itu, pemerintah juga harus menegakkan peraturan dengan tegas. Anak-anak harus dilindungi," tandasnya.

Waspadai Pengaruh TV Pada Anak

Hari Minggu seharian si kecil nongkrongin televisi. Bagus-bagus acaranya. Mulai Doraemon, PMan, hingga Dragonball. Masih juga dilengkapi dengan kehadiran gadis kecil berambut pendek bertas ransel yang populer disebut Dora. Sebegitu menariknyakah kehadiran kotak ajaib yang kini menjadi barang wajib dalam setiap rumah itu? Haruskah kita membiarkan si kecil berada di depannya tanpa ada kita di hadapannya? Artikel berikut ini bisa jadi bahan panduan Anda. Selamat membaca!

Sayangnya banyak tayangan TV yang sama sekali tak baik bagi perkembangan anak.
Anda mau bukti konkret? Teruslah membaca artikel ini ya. Sebuah penelitian regional yang melibatkan anak-anak Kanada, Australia, Amerika dan Indonesia dalam hal menonton televisi mendapatkan hasil menarik. Mau tahu? Anak Indonesia adalah penonton TV terlama, disusul Amerika, Australia dan paling rendah Kanada.

Hal ini tak lepas dari perubahan gaya hidup masa kini yang dianut sebagain besar orang tua di Indonesia: Sibuk bekerja, pengasuhan anak diserahkan kepada pengasuh serta berbagai faktor lain yang mengiringi.

Menonton televisi tampaknya membawa dampak negatif pada perkembangan anak dibanding dampak positif. Dari televisi anak-anak dapat menyaksikan semua tayangan, bahkan termasuk yang belum layak mereka tonton, mulai kekerasan dan kehidupan seks.

Dr. Endang Darmoutomo, MS, SpGK, dalam seminar yang diselenggarakan 'Dancow Parenting Center' beberapa waktu lalu mengungkapkan kecenderungan menonton tv terlalu lama akan meningkatkan angka obesitas pada anak-anak. Satu jam nonton tv misalnya, akan meningkatkan obesitas sebesar 2%. Pasalnya selama menonton TV, lanjut Dr. Endang, anak lebih banyak ngemil dan tak melakukan aktivitas olah tubuh.

Hal yang sama berlaku bagi anak yang lebih suka bermain games atau komputer dibanding anak yang bermain-main di luar bersama teman-teman. "Saat nonton tv atau main game, terjadi ketidakseimbangan energi yang masuk dan yang digunakan," ujar Dr. Endang. Saat anak nonton tv, kalori yang dibakar hanya 36 kkal/jam, padahal apa yang dia konsumsi jauh melebihi kalori yang digunakan. "Anak perlu aktif untuk bertumbuh," tandas Dr. Endang.

Obesitas tak hanya berdampak buruk bagi kesehatan karena mengundang berbagai penyakit seperti hipertensi, diabetes, gangguan sendi, penyakit jantung koroner hingga stroke saat anak dewasa, namun juga dapat mengganggu psikologis anak. Ingat, obesitas akan terbawa saat anak dewasa jika tak ditangani secara baik. Mungkin ia akan merasa malu, rendah diri, bahkan merasa tak berharga karena memiliki tubuh 'berbeda' dibanding teman-teman di lingkungannya.
Apa lagi dampak negatif menonton televisi pada anak selain obesitas? Ternyata menonton tv terkait erat dengan kecerdasan. Menurut Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA (K) mengutip hasil penelitian Hancox RJ. Association of Television Viewing During Childhood with Poor Educational Achievement.

Arch Pediatr Adolesc Med 2005, bahwa menonton tv saat masa anak dan remaja berdampak jangka panjang terhadap kegagalan akademis umur 26 tahun.

Sedangkan penelitian lain mengenai pengaruh tv terhadap IQ anak mendapati hasil bahwa anak di bawah 3 tahun yang rajin menonton televisi setiap jamnya ternyata hasil uji membaca turun, uji membaca komprehensif turun, juga memori. Yang positif hanyalah kemampuan mengenal dengan membaca naik. Dari situ disimpulkan bahwa menonton tv pada anak di bawah 3 tahun hanya membawa lebih banyak dampak buruk dibanding efek baiknya.
Anak yang sering menonton tv juga mengalami masalah pada pola tidurnya, seperti terlambat tidur, kurang tidur bahkan tak bisa tidur, cemas tanpa sebab, terbangun malam dan mengantuk pada siang hari.

Dr Hardiono menjelaskan, otak berfungsi merencanakan, mengorganisasi dan mengurutkan perilaku untuk kontrol diri sendiri, konsentrasi atau atensi dan menentukan baik atau tidak. "Pusat di otak yang mengatur hal ini adalah korteks prefrontal yang berkembang selama masa anak dan remaja," papar Dr. Hardiono. Televisi dan game video yang mindless (tak membutuhkan otak untuk berpikir) akan menghambat perkembangan bagian otak ini.

Lebih lanjut Dr. Hardiono memaparkan, hanya dari menonton televisi saja otak kehilangan kesempatan mendapat stimulasi dari kesempatan berpartisipasi aktif dalam hubungan sosial dengan orang lain, bermain kreatif dan memecahkan masalah. Selain itu tv bersifat satu arah, sehingga anak kehilangan kesempatan mengekplorasi dunia tiga dimensi serta kehilangan peluang tahapan perkembangan yang baik.

Nah masih tega membiarkan anak tercinta kita sendirian di depan televisi? Tentu lebih bijak rasanya kalau kita menemaninya sembari memberikan pengertian mengenai acara yang berlangsung. Siapa sih yang ingin anaknya memiliki pengetahuan luas? Tetapi siapa juga yang ingin anaknya terjerembab dalam dunia lain, mimpi layaknya suguhan televisi? Oke, selamat menjadi orang tua yang bisa menjelma sahabat anak-anak.

Diadaptasi dari hanya wanita

Friday, July 17, 2009

Berkualitaskah kebersamaan kita?

Tadi pagi,pas aku lagi sarapan,samar-samar kudengar syair lagu anak-anak dari TV. Kurang lebih begini bunyinya :

………Ayah dan ibu tak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan……
………Mereka memberiku mainan yang banyak……..
…….Juga baju-baju yang bagus…….
……..Tapi bukan itu sebenarnya yang kuinginkan…..
……..Aku ingin mereka bermain bersamaku……
……..Hingga aku tidak merasa kesepian…….

Sejenak, kuhentikan makan pagiku. Mencoba mencerna kalimat-kalimat yang barusan kudengar. Ouw…aku merasa tersentil. Karena selama ini aku selalu berusaha memenuhi kebutuhan fisik anak-anakku. Selengkap mungkin. Mainan beraneka macam. Baju-baju bagus. Buku-buku pengetahuan. Plus vitamin serta obat-obatan komplit saat mereka sakit. Semua untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka semata.

Coba kutelusuri lagi. Apa yang telah kuberikan untuk memenuhi kebutuhan psikis mereka.Waktu bersama?Hmm…pulang kerja,aku memang bersama anak-anakku. Tapi berkualitaskah kebersamaan itu?Aku kadang asyik membaca, sementara mereka pun asyik memelototi acara TV. Kali lain,aku sibuk membereskan rumah ketika mereka pun riuh bermain game computer. Atau aku ngobrol kesana kemari dengan tetangga,sedang anak-anakku kebut-kebutan dengan sepeda kecilnya.

Tidak ada komunikasi dua arah antara aku dan anak-anakku. Kami memang bersama secara fisik, tapi aktivitas kami berlainan. Olala….sungguh selama ini aku keliru memaknai arti kebersamaan itu. Seharusnya aku mengajak mereka bicara atau berdiskusi tentang kegiatan mereka seharian tadi. Atau membacakan cerita-cerita berhikmah. Atau bermain bersama mereka. Atau apalah….yang pasti ada interaksi antara aku dan anak-anakku.

Baiklah….aku akan berusaha lebih bijak lagi menjalani kebersamaanku bersama keempat buah hatiku. I’ll try!!

Saturday, May 16, 2009

bikin peta hidup,euy...!

Hari ini masuk kerja lagi. Pasien lumayan, gak banyak2 amat. So, aku bisa rada refreshing. Nulis2….ngemil….ngerumpi….eh, tapi ngerumpinya yang baik-baik lo,walo kadang keterusan dink!

Semalam baca UMMI terbaru, ada artikel tentang membuat peta kehidupan. Maksudnya hidup tuh kudu di planning. Tahun ini mo beli apa, trus beberapa tahun ke depan mau bangun apa, sepuluh tahun lagi anak2 mo disekolahin dimana bla…bla…bla…Puyeng juga ya mikirnya? Seneng sih bikin planningnya, Cuma aku takutnya kesampean ndak ya ? Ntar Cuma bisa mimpi doang!

Dulu waktu aku baca Ayat2 Cintanya Habiburrahman, isinya kurang lebih sama. Si Fahri yang bikin peta hidupnya di dinding kamar. Tahun sekian nikah,trus nyelesaikan thesis,trus etc..etc..banyak deh.
Dulu sempat trmotivasi juga, tapi lagi-lagi takut gak terealisir…

Di buku Financial Revolutionnya Tung Desem Waringin juga dibahas tuh tentang ‘pencatatan mimpi’ kita. For example, kita disuruh nulis nominal uang yang kita inginkan beberapa tahun ke depan di buku reekening kita. Katanya sih ada yang nulis beberapa milyar gitu,eh…kesampean!! Amazing gak seeh?!

Kalo aku nulis 10 milyar kesampean gak ya??Dueng!! Mimpi kalleee…! Tapi si Tung tuh keren lho. Katanya yang ikut pelatihannya dia,omsetnya naik sampe 700 % bahkan ada yang lebih. Bayangpun!
Jadi ngiler abiss.